Menghormati seseorang tidak mengharuskan kita menyamakan keyakinan dengannya. Dalam percakapan sehari-hari, sikap itu bisa tampak sederhana: menyampaikan pendapat tanpa merendahkan, mendengarkan tanpa berpura-pura setuju, dan tidak memaksa orang lain mengubah pandangannya. Itulah salah satu batas penting dalam pembahasan toleransi beragama di agama77.
Menghargai bukan berarti menyetujui
Surah Al-Kafirun adalah surah ke-109 dalam Al-Qur'an, terdiri atas enam ayat dan termasuk surah Makkiyah. Surah ini populer dijadikan dasar toleransi beragama, dengan ayat penutup yang kerap dikutip, "Untukmu agamamu, dan untukku agamaku." Ringkasan surah tersebut juga menekankan pemisahan dalam hal keimanan dan peribadatan [1].
Dua penekanan itu dapat membantu membedakan penghormatan dari persetujuan. Kita bisa mengakui hak seseorang untuk memegang keyakinannya tanpa menyatakan bahwa semua pandangan sama. Sebaliknya, mempertahankan batas keyakinan sendiri tidak perlu menjadi alasan untuk mengejek atau membungkam lawan bicara.
Beri ruang untuk berpendapat, bukan tekanan untuk sepakat
Dialog lebih jernih ketika orang menyebutkan posisi masing-masing dengan kata-kata yang tidak menuduh. Misalnya, "Saya memahami bahwa ini penting bagimu, tetapi pandangan saya berbeda," atau, "Saya ingin tahu bagaimana kamu memaknai hal itu." Kalimat semacam ini menyampaikan perbedaan sekaligus membuka ruang untuk jawaban.
Ruang berpendapat juga mencakup hak untuk menetapkan batas. Seseorang dapat menjelaskan bahwa ia tidak ingin ikut dalam suatu praktik keagamaan atau belum nyaman membicarakan topik tertentu, tanpa menghina orang yang menjalankannya. Jika percakapan berubah menjadi desakan agar salah satu pihak mengalah, menghentikannya sejenak dapat lebih menghormati kedua belah pihak daripada meneruskan debat yang sudah tidak saling mendengar.
Jangan jadikan satu kutipan sebagai penutup semua pembahasan
Penafsiran tentang Surah Al-Kafirun tidak hanya disajikan dengan satu penekanan. Ada mufassir yang memahami konteksnya sebagai penolakan terhadap bujukan agar umat Muslim bergabung dengan kaum Quraisy, pada masa ketika umat Muslim dipersekusi di Makkah [1]. Catatan ini memberi konteks pada pembacaan surah, sekaligus mengingatkan bahwa sebuah kutipan tidak otomatis menjawab setiap pertanyaan tentang cara berhubungan dengan orang yang berbeda keyakinan.
Karena itu, percakapan dapat lebih terbuka bila para pihak menjelaskan apa yang sedang dibahas: batas dalam keimanan dan ibadah, sikap terhadap orang lain, atau penafsiran atas sebuah ayat. Perbedaan tidak harus dihapus agar orang bisa berbicara dengan hormat. Cukup jaga agar menyatakan keyakinan sendiri tidak berubah menjadi paksaan untuk mengubah keyakinan orang lain.
Sumber
- [1] Wikipedia bahasa Indonesia β Surah Al-Kafirun. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=26018426&title=Surah_Al-Kafirun (diakses 2026-10-02).